Sejarah Jalannya Revolusi Perancis (6 Masa Revolusi) - Revolusi Prancis yang berlangsung selama sepuluh tahun dapat dibagi menjadi beberapa masa, seperti berikut.


Dewan Perwakilan Rakyat Prancis terdiri atas tiga golongan.

1) Golongan I (dari bangsawan) jumlah 300 orang.
2) Golongan II (dari Gereja) jumlah 300 orang.
3) Golongan III (dari rakyat) jumlah 600 orang. Estats Generauxi bersidang pada tanggal 5–17 Juni 1789.

Golongan I dan II menghendaki pengambilan keputusan didasarkan atas golongan sehingga kelompoknya akan tetap menang, sedangkan golongan III menghendaki atas dasar perorangan. Hal itu disebabkan golongan III telah memiliki separo dari jumlah anggota dewan. Perbedaan pendapat tersebut tidak dapat diselesaikan. Raja Louis XVI tidak bersikap tegas sehingga menimbulkan keberanian Golongan III untuk terus menentang pendapat Golongan I dan II.

Golongan III mengadakan sidang sendiri (tanggal 17 Juni 1789) di bawah pimpinan Merabeau, Lafayette, dan Seiyes. Mereka menyatakan bahwa Estats Generaux sebagai Essemble Nationale yang merupakan Dewan Perwakilan Rakyat Prancis dengan sidang-sidangnya yang tidak mengenal sistem golongan. Dewan ini kemudian disebut Assemble Nationale Constituante yang bertugas menyusun Undang-Undang Dasar (UUD) Prancis.

Sejarah Jalannya Revolusi Perancis
Perselisihan dan ketegangan makin tajam. Raja tidak mau mengakui Dewan tersebut dan akan membubarkan dengan kekerasan senjata. Rakyat menjadi marah sehingga pada tanggal 14 Juli 1789 menyerbu Penjara Bastille (lambang absolutisme) dan membebaskan orang-orang yang ditahannya. 

Oleh karena itu, tanggal 14 Juli dijadikan hari Nasional Prancis. Bendera Kerajaan Prancis diganti menjadi bendera nasional dengan warna Merah, Putih, dan Biru secara vertikal. Lagu Merseillaise dijadikan lagu kebangsaan dan dibentuk tentara nasional dibawah pimpinan Lafayette.

Meskipun terus menghadapi rintangan dari pemerintah kerajaan, Dewan Konstituante Nasional terus mengadakan sidang untuk menyusun UUD. Pada tanggal 27 Agustus 1789, Dewan berhasil mengumumkan Declaration des Droits de l'homme et du citoyen (pernyataan hak-hak asasi manusia dan pengakuan hak warga negara). Deklarasi inilah yang dijadikan dasar untuk menyusun UUD Prancis.

Pada tanggal 14 Juli 1790, UUD disahkan dan Prancis menjadi kerajaan berkonstitusional. Raja Louis XVI menyetujui UUD tersebut dan bersumpah setia kepadanya. Kaum Borjuis yang merupakan rakyat lapisan atas berhasil memimpin dan memenangkan revolusi. Mereka itulah yang menggantikan kedudukan kaum bangsawan dalam pemerintahan maupun perekonomian.


Setelah UUD Prancis disahkan maka Dewan Konstituante Nasional kembali kepada fungsinya sebagai lembaga legistatif. Golongan III (khususnya kaum Borjuis) merasa puas dengan apa yang telah dicapai, tetapi rakyat belum merasakan adanya perbaikan nasib. Mereka membentuk suatu kelompok tersendiri dalam Partai Motagne yang tidak puas dengan pemerintahan kerajaan konstitusional dan menghendaki bentuk pemerintahan republik. 

Golongan Borjuis yang mulai terancam oleh partai rakyat yang juga membentuk kelompok sendiri dalam Partai Gironde. Situasi politik tegang kembali, Louis XVI yang merasa posisinya terjepit dan khawatir akan keselamatannya berusaha melarikan diri ke luar negeri. Rakyat yang mengetahui hal itu sangat marah dan menuduh bahwa raja telah berkhianat terhadap negara dan UUD. Untuk itu, raja ditangkap dan dikembalikan ke Paris.

Anggapan rakyat bahwa raja telah berkhianat semakin kuat setelah Austria dan Prusia (1792) menyerang Prancis sehingga menimbulkan Perang Koalisi I ( 1792–1797). Tujuan serangan adalah untuk menghancurkan Revolusi Prancis yang dianggap membahayakan negara yang bersifat absolut. Rakyat Prancis berhasil mematahkan serangan koalisi. Selanjutnya, di bawah pimpinan Danton dari golongan Yacobin berhasil membentuk pemerintahan baru yang disebut Konvensi Nasional. Masa ini pimpinan di tangan rakyat.


Pertentangan antara Partai Gironde dan Partai Montagne terus berlanjut dan berakhir dengan kemenangan Partai Montagne. Bentuk kerajaan dihapuskan dan digantikan dengan republik (merupakan Republik I (1792).Raja Louis XVI bersama permaisurinya (Maria Antoinette) dijatuhi hukuman mati dengan dipenggal kepalanya dengan di tiang guillotine.

Sementara itu, situasi Prancis makin gawat. Untuk menyelematkan negara, golongan Yacobin mendirikan pemerintahan Diktator (Terror) di bawah pimpinan Robespiere yang bertindak tegas dan kejam terhadap lawan-lawan politiknya. Golongan bangsawan dan Borjuis terus berusaha untuk menjatuhkan Robespiere. Usaha tersebut berhasil, Robespiere berhasil ditangkap dan dihukum mati. Dengan jatuhnya pemerintahan Terror, tampuk pimpinan revolusi kembali ke tangan golongan Borjuis.


Untuk mengatasi keadaan yang kalut, kaum Borjuis membentuk Dewan Pimpinan Pusat bidang eksekutif yang terdiri atas lima orang direktur (Directoire), yakni Barras, Moulin, Gohier, Roger Ducos, dan Seiyes. Maksud dibentuknya Directoire adalah untuk memberikan gambaran adanya pemerintahan yang demokratis supaya dapat mengatasi keadaan.

Sementara itu, kekuasa legislatif yang didominasi oleh golongan bangsawan semakin kuat (golongan Monarki). Kaum Borjuis (golongan Republiken) cemas, namun tidak berdaya. Rakyat Prancis mengharapkan tampilnya seorang pemimpin yang kuat. Tampilnya Napoleon Bonaparte yang namanya menjadi tenar karena kemenangan militernya dalam Perang Koalisi diharapkan oleh rakyat Prancis.


Pemerintahan Directoire tidak efektif lagi sehingga Napoleon Bonaparte mengambil alih kekuasaan (coup d'etat yang dikenal dengan Revolusi Brumai pada tanggal 9 November 1799). Directoire dibubarkan, kemudian Napoleon Bonaparte membentuk pemerintahan Konsulat yang terdiri atas tiga orang konsul, yakni Napoleon Bonaparte, Seiyes, dan Roger Ducos. 

Napoleon adalah seorang jenderal muda yang cakap memiliki cita-cita dan ambisi yang besar. Sebagai konsul yang pertama, ia tampil mengesankan dan mendapat dukungan dari berbagai pihak. Rakyat Prancis menaruh harapan untuk mengembalikan kejayaan Prancis. Untuk itu, Napoleon melakukan langkah-langkah penting sebagai berikut.

1) Pembentukan pemerintahan yang kuat dan stabil dengan cara memusatkan kekuasaan pemerintahan di tanganya sendiri, menyeragamkan sistem administrasi pemerintahan, dan menyusun Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Code de Penal) dan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (Code de Civil).

2) Menciptakan suasana aman, tenteram dan damai dengan cara kaum bangsawan yang lari ke luar negeri akibat revolusi, diizinkan kembali ke Prancis dengan aman, mengadakan perdamaian dengan Paus guna mengembalikan citra gereja dan ulama di Prancis seperti sedia kala, dan membentuk tentara yang kuat.

3) Meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan cara memajukan pendidikan bagi rakyat, memajukan perekonomian melalui industrialisasi dan perdagangan, dan menciptakan Kitang Undang-Undang Hukum Perdagangan (Code de Commerce) agar perdagangan Prancis berkembang pesat dan membawa keuntungan.

4) Membangun sarana dan prasarana, seperti jalan raya dan gedung-gedung pemerintahan.

5) Memberantas korupsi dan memperbaiki keuangan negara.

Selain itu, dalam rangka mengembalikan kejayaan Prancis, Napoleon harus memenangkan perang dalam Perang Koalisi II (1799–1802). Usaha-usaha yang dilakukan Napoleon menunjukkan kepedulian dan kesungguhan Napoleon dalam memperbaiki keadaan Prancis. Dengan usaha-usaha tersebut, Prancis mulai bangkit kembali dari kehancuran. Rakyat Prancis makin menaruh kepercayaan kepada Napoleon untuk memimpin Prancis. Keberhasilan dalam membangun Perancis juga mendapat tanggapan yang positif dari Paus VII. Hal ini terbukti dengan diangkatnya Napoleon sebagai kaisar oleh Paus VII.


Ketika Paus VII mengangkat Napoleon sebagai kaisar, rakyat Prancis mendukung sepenuhnya kepemimpinan Napoleon sebagai Kaisar Prancis. Selama 15 tahun, rakyat Prancis berjuang melancarkan revolusi dan menentang kekuasaan absolut. Namun, dengan persetujuannya pengangkatan Napoleon menjadi Kaisar Prancis, berarti rakyat Prancis kembali menyetujui kekuasaan absolut, yakni suatu kekuasaan yang berada pada satu pimpinan, yakni Kaisar Napoleon. 

Dengan demikian, pada tahun 1804 berakhirlah masa Konsulat dan memasuki babak baru yakni masa Kekaisaran. Napoleon kemudian membentuk dinasti baru yang dikenal dengan Dinasti Bonaparte. Sebagai kaisar, kedudukan Napoleon menjadi makin mantap dalam mengendalikan roda pemerintahan Prancis.

Sebagai kader revolusi yang berpaham liberal, Napoleon tetap memberikan kebebasan terutama di bidang keagamaan, pendidikan, perdagangan, dan persamaan hak dalam undang-undang. Akan tetapi, di bidang politik, Napoleon berpegang teguh pada prinsip absolutisme yang bersifat turun-temurun. Ia berkuasa secara diktator menurut kehendaknya sendiri yang dipandang baik dan cocok sehingga prinsip demokrasi dikesampingkan.  Dengan demikian, Napoleon memadukan prinsip kepemimpinan absolutisme dan demokrasi. Oleh karena itu, sistem pemerintahan Napoleon sering dikenal dengan Verlicht Despotisme.

Sesuai dengan prinsip dinasti dan deportisme maka keturunan dan keluarga ikut berpengaruh dalam pemerintahan. Bagi Napoleon, keturunan adalah penting. Oleh karena itu, istrinya yang pertama, Josephine de Beauharnaise diceraikan karena tidak memiliki keturunan. Napoleon kemudian menikahi Maria Louis, putri dari Austria. 

Dari pernikahannya dengan Louis, Napoleon memempunyai putra, yaitu Napoleon II yang kemudian diangkat sebagai penguasa di Roma (1811–1832). Saudara-saudara Napoleon juga diberikan kedudukan. Misalnya, Joseph Bonaparte diangkat menjadi Raja Spanyol. Louis Napoleon diangkat menjadi raja di Belanda, dan Jerome sebagai raja di Jerman. Secara politis, itu semua dilakukan agar seluruh Eropa berada di bawah kekuasaan keluarga Napoleon Bonaparte.

Demikianlah Materi Sejarah Jalannya Revolusi Perancis (6 Masa Revolusi), selanjutnya simak juga materi Perang Koalisi dan Pengaruh Revolusi Perancis semoga bermanfaat.
Untuk Melihat Materi Lain, Silahkan Kunjungi Menu Diatas Atau Lihat Daftar Isi Selamat Belajar.

Posting Komentar Blogger

- Berkomentarlah sesuai dengan topik
- Komentar promosi & Link AKTIF tidak akan ditampilkan
- Untuk komentar LINK AKTIF Silahkan berkomentar menggunakan Akun Facebook.
- Komentar yang mengandung hujatan, negatif akan dianggap spam

Terima Kasih Sudah Berkunjung